Novel “Kuliah Cuma Numpang Bikin Kopi” ini lahir dari perpaduan pengamatan kritis terhadap kaku dan dinginnya birokrasi akademis, berpadu dengan romantisme ruang-ruang alternatif tempat jiwa-jiwa muda berproses mencari makna kebebasan, persahabatan, dan identitas diri.
Di balik riuh tuntutan akademik, kisah ini berupaya memotret benturan idealisme mahasiswa ketika berhadapan dengan komersialisasi ruang kampus. Lewat perjuangan Rian Pratama, Anya, dan Bang Bagas, kopi hadir bukan sekadar pelengkap gaya hidup, melainkan media diplomasi, simbol kehangatan, serta katalisator yang menyatukan berbagai pemikiran dalam melahirkan gerakan perlawanan kreatif.






Ulasan
Belum ada ulasan.